Sabtu

TAREKAT QADIRIYAH

TAREKAT QADIRIYAH

Pelopor Aliran-aliran Tarekat di Dunia Islam

A. Pendahuluan

Islam adalah agama terakhir yang diturunkan sebagai penyempurna agama-agama yang pernah ada yang disampaikan oleh seorang Rasul pilihan sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam, Islam merupakan agama yang hak, mutlak kebenarannya. Al – Qur’an kitab suci sebagai pedoman dan sumber ajaran Islam yang paling utama sekaligus sebagai bukti dari kesesuaian ajaran Islam dalam segala ruang dan waktu.

Dalam rangka meningkatkan syi’ar Islam diberbagai tempat di Indonesia, terutama di Jawa, baik lewat pengajian umum, maupun kegiatan lain, seperti Istighostash Kubraa, Jama’ah yasin dan tahlil, jam’ah dibaiyah manaqiban dan sebagainya.

Maraknya kegiatan seperti ini memang patut dibanggakan dan dibarengi rasa syukur, namun dalam prakteknya masih banyak sesuatu yang masih perlu dibenahi agar pelaksanaan dan hasilnya bisa lebih baik. Dalam hal ini adalah masalah kuranganya usaha pemahaman dari kegiatan ini, khususnya dari apa yang senantiasa dibaca para jama’ah, bahkan banyak yang sudah dihafalkannya. Selama ini hanya mementingkan rutinnya kegiatan dengan sekedar membaca dengan lagu-lagu tertentu, namun kebanyakan tidak berusaha memahami arti dan makna yang terkandung dalam bacaan itu, jadi (maaf) kebanyakan hanya senang berkumpul, baca Diba’, Manaqib, Yasin tahlil dan sejenisnya, kadang dibarengi arisan kemudian bubar.selama bertahun-tahun kegiatannya Cuma seperti itu saja. Belum mengarah pada pemahaman, misalnya jama’ah Yasin tahlil mestinya jangan hanya berusaha membaca, menghafal saja, namun alangkah baiknya ditambah dengan pengkajian tentang makna dan kandungan bacaan tersebut.

Untuk itulah, dengan niat thalabul 'ilmi dalam rangka menambah ilmu dan wawasan serta pemahaman tahlil, Yasin, Diba', dan sejenis-nya sekaligus meningkatkan mutu kegiatan-kegiatan masyarakat tersebut.. Dan dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan dan wawasan keislaman, sejarah singkat untuk melengkapi/menambah dati sesuatu yang sudah dikisahkan dalam manaqib ini, dengan harapan semoga kita bisa mengenal lebih dalam lagi terhadap Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, seorang Sulfhanul Auliya' dan Wali Quthub, pendiri thariqah-mu'tabarah Qadiriyah, baik sejarah hidupnya, karamahnya, maupun ajaran-ajarannya, sehingga kita dapat meneladani beliau dalam segala tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan ini.

B. Sejarah Tarekat Qadiriyah

Qadiriyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama pendirinya, yaitu `Abd al-Qâdir Jîlânî, yang terkenal dengan sebutan Syeikh `Abd al-Qâdir Jilani al-ghawsts atau quthb al-awliyâ’. Syeikh `Abd al-Qâdir lahir di desa Naif kota Gilan tahun 470/1077, yaitu wilayah yang terletak 150 km timurlaut Bagdad. Ibunya seorang yang salih bernama Fathîmah bint ‘Abdullah as-Shamâ’î al-Husaynî, ketika melahirkan Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni ibunya berumur 60 tahun, suatu kelahiran yang tidak lazim terjadi bagi wanita yang seumurnya. Ayahnya bernama Abû Shâlih, yang jauh sebelum kelahirannya ia bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw, yang diiringi oleh para sahabat, imam mujahidin, dan wali. Nabi Muhammad berkata, “Wahai Abû Shâlih, Allah akan memberi anak laki-laki, anak itu kelak akan mendapat pangkat yang tinggi dalam kewalian sebagaimana halnya aku mendapat pangkat tertinggi dalam kenabian dan kerasulan.”[1] Ayahnya meninggal pada saat usianya masih teramat belia, sehingga dia dibesarkan dan diasuh oleh kakeknya.[2]

Syeikh `Abd al-Qâdir meninggal di Bagddad pada tahun 561/1166. Makamnya sejak dulu hingga sekarang tetap diziarahi khlayak ramai, dari segala penjuru dunia Islam. Di kalangan kaum sufi Syeikh `Abd al-Qâdir diakui sebagai sosok yang menempati hierarki mistik yang tertinggi (al-Ghawts al-A`zham). Hujwîrî mebuat klasifikasi dan hierarki para penerima pencerahan Ilahi, yang terbagi pada enam tingkatan. Tingkat dasar adalah Akhyâr berjumlah 300 orang, tingkat Abdâl berjumlah 40 orang, tingkat Abrâr 7 orang, tingkat Autâd 4 orang, Nuqabâ 3 orang, dan yang tertinggi adalah Quthb atau Ghawts 1 orang. Ibn `Arabî menyebut Syeikh `Abd al-Qâdir sebagai wali Quthb pada zamannya.[3]

Kontribusinya terhadap spiritualitas Islam memang amat penting. Ia mendirikan suatu gerakan yang amat kuat dalam membentuk budaya spiritual Islam yang bersifat massif. Beberapa pendiri tarekat, seperti Khwajah Mu`in al-Dîn al-Khistî dan Syeikh Najîb al-Dîn `Abd al-Qâhir Suhrawardî terpengaruh oleh ajaran-ajarannya dan ungkapan para sahabatnya. Bahkan cerita yang populer dan sekaligus diperdebatkan menceritakan kehebatan Syeikh `Abd al-Qâdir. Dilaporkan bahwa Syeikh `Abd al-Qâdir pernah berkata, “Kakiku ada di atas kepala seluruh wali.” Meskipun ungkapan sejenis ini sering dicela, perkataannya itu tetap menjadi pegangan bagi pengikutnya, bahkan semakin banyak ungkapan yang amat menyanjung kehebatan Syeikh `Abd al-Qâdir.[4]

Cerita tentang kehebatan Syeikh `Abd al-Qâdir banyak diungkapkan dalam berbagai buku tarekat, terutama Manakib Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlânî, bahkan mengungkapkan kehebatan syeikh tersebut merupakan kewajiban ketika akan memulai pengjian. Memang agak sulit untuk membedakan antara fakta sejarah dengan legenda dalam mengkaji sosok Syeikh `Abd al-Qâdir karena sejarah dan ajarannya ditulis beberapa puluh tahun setelah dia wafat dan yang menulis adalah para pengikut yang amat setia.

Nama lengkap Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni adalah Abu Muhammad `Abd al-Qâdir Jîlâni ibn Abi Shalih ibn Musa bin Janki Dusat (Janka Dusat) bin Abi Abdillah bin Yahya az-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdilllah al-Mahdhi bin Hasan al-Musanna bin Hasan as-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra al-Batul binti Rasulullah saw.[5]

Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni semenjak kecil telah dianugerahi kejujuran serupa kejujuran sahabat Abu Bakar as-Sidik dan keadilan serupa keadilannya sahabat Umar bin Khatab al-Faruq, kehalusan pekerti serupa kehalusan sahabat Usman bin Affan Dzun-Nurain, dan keberanian serupa keberanian sahabat Ali bin Abu Thalib Karamallah Wajhah.[6]

Seperti anak-anak pada umumnya di desa, beliau mencoba menggembala onta, satu ketrampilan dasar bagi anak-anak saat itu. Sesampainya di tengah kebun gembala, salah satu onta berbicara: “Hai `Abd al-Qâdir engkau diciptakan bukan untuk ini” yaitu menggembala. Segera beliau pulang mengadukan kejadian itu.

Memasuki usia baligh nampak kecenderungan ilmu yang sangat luar biasa. Beliau lebih nampak berdiam diri dan condong terhadap hal ikhwal spiritual. Hingga suatu saat untuk memenuhi kecenderungan pada ilmu beliau berpamitan kepada ibunya, meninggalkan desa kelahirannya untuk menemui sejumlah ulama.

Beranjak dewasa beliau berguru ilmu fikih kepada Syeikh Abdul Wafa’ Ali ibnu Ail dan Syeikh Abul Husain Muhammad al-Qadhi Abi Ya’la, serta berguru kepada setiap ulama yang dipandang memiliki kedalaman ilmu agama. Beliau berguru ilmu tata krama, akhlak, dan kebudayaan kepada Syeikh Abu Zakaria Yahya bin Ali at-Tabrizi yang sangat mempengaruhi wacana keilmuan Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni. Setelah itu beliau menuntut ilmu bidang falsafat tasawuf yaitu ilmu Tarekat, fak ilmu yang mengkhususkan dalam bidang kema’rifatan (ketuhanan) kepada Syeikh Abul Khoer Hammad bin Muslim ad-Dabbasi dan Syeikh al-Qadhi Abi Said al-Mubarok.[7]

Ketika beliau memasuki gerbang wilayah kota Irak beliau ditemani seseorang, yang baru kemudian hari beliau mengetahui kalau temannya itu adalah seorang nabi, yaitu Nabi Khidir a.s.[8] Nabi Khidir berwasiat kepada Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni: “Jangan sesekali menyalahi janji dengan Nabi Khidir, pengingkaran janji akan berakibat perpisahan”.

“Wahai Syeikh engkau aku minta untuk tinggal di sini”. Beliau tinggal di suatu tempat yang ditunjuk Nabi Khidir sampai tiga tahun tanpa pergi sekalipun. Setiap setahun sekali Nabi Khidir datang menjenguk. Hari-hari dilaluinya dengan latihan batin, ibadat, dan puasa sesuai petunjuk Nabi Khidir.

Semenjak usai menjalani beragam tempaan batin dan terus menjaga kesucian dari hadas kecil maupun besar, hingga anugerah Allah meliputi dirinya dengan beragam cahaya ketuhanan. Cahaya beliau terus berkilau menembus batas ruang dan waktu, terpancar ke segala arah, mengungguli semua cendekiawan dan ulama yang ada pada zamannya. Unggul dalam ilmu, amal, dan kema’rifatan kepada Allah.

Beberapa kekeramatan Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni yang terdapat di dalam kitab Haqoiq dikisahkan sebuah cerita, ada seorang wanita mengadukan perihal anaknya, “Wahai Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni saya mempunyai anak satu-satunya, sekarang ini telah tenggelam di lautan, namun saya berkeyakinan bahwa Syeikh dapat mengembalikannya dan menghidupkannya!”. Beliau menjawab: “Ya sudah, sekarang anakmu sudah ada di rumah kembalilah!”. Segera wanita itu pulang ke rumahnya, tapi tidak didapatinya anak itu, segera ia kembali lagi: “Wahai Syeikh, anakku tidak ada di rumah”. Beliau menjawab: “O.. kalau sekarang pasti sudah ada”. Si wanita itu segera ke rumah dan tidak didapatinya anaknya, segera kembali ke Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni perihal anaknya. Beliau menjawab: “Kalau sekarang pasti sudah ada anakmu itu”. Dan segera kembali wanita itu dan ia dapati anaknya telah ada sehat wal’afiat.

Dari kejadian tersebut Beliau bermunajat: “Ya Allah saya teramat malu kepada anak itu, baru yang ketiga kalinya ia dapati anaknya, apakah sebabnya dan apakah hikmahnya sehingga terlambat, dan aku dipermalukan sampai dua kali?”. Allah menjawab: “Pembicaraan dengan wanita itu memang benar saat pertama kali, tapi jiwa raga anak itu baru dikumpulkan oleh malaikat, yang kedua baru dibugarkan badannya dan dihidupkan yang ketiga kali baru dientaskan dari laut dan dihadirkan ke rumahnya sehingga ia dapati sudah ada anaknya itu”.[9]

C. Ajaran dan Praktek

Ajaran tarekat Qadiriyah memiliki dua aspek, yaitu: [10]

1. Aspek Teoritis

Aspek teoritis adalah ungkapan tentang nasehat-nasehat dan wasiat-wasiat yang dengannya Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni menasehati pengikut-pengikutnya agar berpegang teguh kepada al-Kitab dan as-Sunnah serta berpegang kepada akhlak yang terpuji. Seakan-akan beliau berkata tidak akan meletakkan wirid-wirid, dzikir-dzikir, atau ibadah-ibadah yang tidak dijelaskan di dalam al-Kitab dan as-Sunnah.

Bukti-bukti yang jelas tentang aspek teoritis tarekat Qadiriyah antara lain:

Pertama: Penegasan agar berpegang kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Ketika beliau menasehati anaknya, Abdurrazaq, beliau berkata:

“Aku berwasiat kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mentaati-Nya, menjalankan syari’at, dan menjaga hukum-hukum-Nya. Ketahuilah wahai anakku, semoga Allah memberikan taufik kepada kita, kamu, dan kaum muslimin, bahwa tarekat kita ini dibangun atas dasar al-Kitab, as-Sunnah, ketulusan hati, kedermawanan tangan, kesungguhan dakwah, pencegahan dari keburukan, ketabahan dalam menanggung kesusahan, dan ketulusan dalam mencari saudara”.

Kedua: Bersihnya tarekat Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni dari pemikiran dan filsafat yang dominan pada masanya sebagai hasil dari penerjemahan ilmu pengetahuan Yunani dan pengaruhnya terhadap akal dan pemahaman sehingga banyak di antara para sufi yang terjerat dalam jaring-jaringnya sehingga mereka membuat istilah-istilah yang aneh-aneh seperti: hoyle (aksidensi yang melekat pada jism, yang memungkinkan untuk bersambung dan lepas dari jism. Lihat al-Jurjani, at-Ta’rif, hal. 321), ‘aradh (wujud yang keberadaannya membutuhkan tempat untuk berpijak/aksidensi), dan jauhar (inti sesuatu, jika dia ada pada sesuatu maka dia tidak berada pada tempat tertentu. Dia tersarikan dalam lima hal, yaitu hoyle, bentuk, jisim, jiwa, dan akal).

Ketiga, Memusatkan perhatian pada aspek praktis dan menghindari dari larut dalam perkara-perkara teoritis serta premis-premis yang kontroversial. Buktinya adalah apa yang beliau praktekkan dalam hidupnya, cara dan tarekat yang disusunnya yang bersandar kepada tujuh prinsip dasar, yaitu: mujahadah, tawakkal, akhlak yang baik, syukur, jujur, ridha, dan sabar.

2. Aspek Praktis

Aspek praktis ini diciptakan oleh para pengikut-pengikutnya atau orang-orang sesudahnya, yang kemudian dinisbatkan kepadanya dan muncul tanda-tanda bid’ah serta penyelewengan dari al-Kitab dan as-Sunnah, diantaranya adalah:

Pertama: Berkhalwat (Bersemedi)

Menurut kaum sufi, berkhalwat merupakan suatu salah satu keharusan rohani yang harus ditempuh oleh seorang salik untuk menjadi seorang sufi. Mereka juga meyakini bahwa berkhalwat menjadi bukti atas kesungguhan taubat dan menguatkan keikhlasan. Berkhalwat dianggap sebagai masa-masa terbaik yang dilakukan seorang manusia bersama Tuhannya. Tujuan berkhalwat menurut mereka adalah untuk mengetahui sejauh mana kesiapan seseorang untuk pindah dari satu maqam kepada maqam berikutnya dan dari satu akhwal kepada akhwal berikutnya.

Pada masa awal perjalanan sufinya, Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni menempuh metode ini, seperti yang dijelaskan oleh adz-Dzahabi dalam menjelaskan biografi Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni, bahwa beliau melakukan khalwat, riyadhah, mujahadah, pengembaraan, tinggal di gua dan padang pasir. Mereka berdalil dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, bahwa beliau berkhalwat di gua Hira’.

Kedua: Salat Qadiriyah

Salat Qadiriyah merupakan salah satu dasar dalam wirid Qadiriyah. Telah diriwayatkan tentang fadilat dan anjuran terhadapnya dari Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni, yang mana beliau menulis satu bab khusus dengan judul, “Pasal tentang fadilat salat antara maghrib dan isya’.”

Ketiga: Hizib Muh

Hizib ini dinisbatkan kepada Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni yang menulis buku al-Auraad al-Qadiriyah, dan dikira hizib ini diriwayatkan dari Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni yaitu:[11]

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. اَلَّلهُمَّ مَحَا مَحَا مَحَا وَحَا بَحَا حَمَا لاَيُنْصَرُوْنَ. (وَجَعَلنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لاَيُبْصِرُوْنَ). كهيعص حم عسق لاَيَصْدَعُوْنَ عَنْهَا وَلاَيُنْزَفُوْنَ يَارَبُّ (ثَلاَثًا) وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَسَلَّمَ.

Hizib ini termasuk wirid utama menurut penganut tarekat Qadiriyah dan mereka mengira bahwa siapa yag membacanya di waktu pagi dan sore sebanyak tiga kali, maka dia tidak akan terkena bahaya apapun atas seizin Allah.[12]

Dan ada anggapan bahwa yang membaca wirid tersebut akan mendapat pahala adalah anggapan yang dusta terhadap Allah karena tidak ada yang mengetahui nilai suatu amal dan pahalanya kecuali Allah. Sedangkan penilaian kita terhadap pahala suatu amal yang tidak diriwayatkan syari’at termasuk kebohongan dan mengada-ada.

Keempat: Shalawat Kibrit Ahmar

Penulis kitab al-Auraad al-Qadiriyah menyebutkan suatu dzikir yang mencakup shalawat atas Nabi Muhammad saw, yang dinamakannya dengan Shalawat Kibrit Ahmar, yang dinisbatkan kepada Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni yaitu:

اَلّلهُمَّ اجْعَلْ اَفْضَلَ صَلاَتِكَ اَبَدًا وَأُنْمَى بَرَاكَاتِكَ سَرْمَدًا وَأُزْكَى تَحِيَّاتِكَ فَضْلاً وَعَدَدًا عَلَى أَشْرَفِ الْخَلاَئِقِ الإِنْسَانِيَّةِ وَمَعْدَنِ الدَّقَائِقِ الإِيْمَانِيَّةِ وَطُوْرِ التَّجَلِّيَاتِ الإِحْسَانِيَّةِ وَمُهْبِطِ الأسْرَارِ لاَرَحْمَانِيَّةَ وَعَرُوْسَ الْمَمْلَكَةِ الرَّبَّانِيَّةِ شَاهِدًا اَسْرَارِ الأزَلِ وَمُشَاهِدًا نُوْر ِالسَّوَابِقِ الأَوَّلِ وَتُرْجُمَانِ لِسَانِ الْقَدَمِ وَمَنْبَعِ الْعِلْمِ وَالْحِلْمِ وَالْحُكْمِ كَظَهْرِ سِرِّ الْوُجُوْدِ الْجُزْئِيِّ وَالْكُلِّى وَإِنْسَانِ عَيْنِ الْوُجُوْدِ الْعُلْوِى وَالسُّفْلَى رُوْحُ جَسَدِ الْكَوْنَيْنِ وَعَيْنِ حَيَاةِ الدَّارَيْنِ الْجَوْهَر الشَّرِيْقِ الأَبْدِى وَالّنُوْرِ الْقَدِيْمِ السَّرْمَدِى الْمَحْمُوْدِ فِى الإِيْجَادِ وَالْوُجُوْدِ الْفَاتِحِ لِكُلِّ شَاهِدٍ وَمَشْهُوْدٍ نُوْرُ كُلِّ شَيْئٍ وَهُدَاهُ سِرُّ كُلِّ سِرٍّ وَسُنَّاهُ الَّذِى شَغَفَتْ مِنْهُ الأسْرَارُ وَانْفَلَقَتْ مِنْهُ الأنْوَارُ.

Wirid ini termasuk wirid mungkar yang tidak saya temukan di buku apapun yang ditulis oleh Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni. Sehingga tidak mungkin diterima, jika wirid itu dinisbatkan kepada beliau.[13]

Kelima: Hizib Alif Qaim

Doa ini dinisbatkan oleh penulis al-Auraad al-Qadiriyah kepada Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni. Teks doa tersebut adalah:

اللهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِالألِفِ الْقَائِمِ الَّذِى لَيْسَ مُهْلُهُ سَابِقٌ وَبِالْلاَّمَيْنِ الَّلذَيْنِ لَمَعَتْ بِهِمَا الأسْرَارُ وَجَعَْتُهُمَا بَيْنَ الْعَقْلِ وَالرُّوْحِ وَأخَذْتُ عَلَيْهِمَا الْعَْدَ الْوَاثِقَ وَبِالْهَاءِ الْمُحِيْطِ بِالْعُلُوْمِ الْحَوَامِدِ الْمُتَحَرِّكِ الصَّوَامِتِ النَّوَاطِقِ وَأسْألُكَ الْوَصْلَ بِالسِّرِّ الضَّيِّ مِنْهُ الْعُقُوْلُ فَهُوَ مِنْ قُرْبِهِ ذُهْلٌ أَيَتَنَوَّخُ أمْلُوْخٌ مَهِيَاشٌ مَهَايِشُ ...

Wirid ini sama dengan doa sebelumnya –dalam wirid shalawat Nabi saw- yang di dalamnya mengandung kata-kata aneh yang tidak dipahami maknanya dan mengandung pula anggapan-anggapan bathil dalam huruf hijaiyah dan istilah-istilah yang tidak ada maknanya.

Keenam: Berzikir kepada Allah dengan Lafal Jalalah saja “Allah” atau dengan Dhamir “Huwa”

Tarekat Qadiriyah seperti tarekat-tarekat sufi lainnya, melatih zikir kepada Allah dengan hanya memakai kalimat jalalah tunggal, yaitu dengan mengulang-ulang kata “Allah” atau dhamir “huwa”. Penulis buku Dhiya’ al-Mustabin berkata: “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berzikir dengan kata ‘Allah’ dan tidak menyuruh untuk menambahnya dengan kalimat apapun pada kata ini karena itu zikir khusus bagi hamba-hamba-Nya yang dengan mereka Allah menjaga alam dunia.

Ketujuh: Menjaga Salat-salat Khusus

Mereka menjaga salat-salat khusus di siang, malam, minggu, bulan Rajab, bulan Sya’ban, dan sebagainya. Hal yang demikian itu merupakan bid’ah.

D. Proses Penyebaran Di Indonesia

Selanjutnya proses masuknya tarekat Qadiriyyah ke Indonesia lewat penyair besar yang bernama Hamzah Fansuri. Beliau mendapatkan khilafat (ijazah untuk mengajar) ilmu `Abd al-Qâdir, ketika beliau bermukim di Ayuthia, ibu kota Muangthai (yang orang Persia dan India dinamakan, dalam bahasa Parsi, Syahr-i Naw, “Kota Baru”).

Namun ada pendapat lain bahwa Hamzah Fansuri mendapatkan khilafat di Baghdad, tetapi yang pasti beliau adalah orang Indonesia pertama yang menganut tarekat Qadiriyah dan Qadiriyah adalah tarekat pertama yang disebut dalam sumber-sumber pribumi.[14] Pada waktu itu beliau berziarah ke makam Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni yang terletak di kota Baghdad dan barangkali terjadi pembaitannya dalam ilmu Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni.

Indikasi bahwa tarekat Qadiriyyah bertahan di Aceh setelah Hamzah. Sekitar tahun 1645, Syeikh Yusuf Makassar singgah di Aceh dalam perjalanannya di Sulawesi ke Makkah dan ia masuk tarekat Qadiriyah di sana, seperti yang ditulisnya dalam Risalah Safinah al-Najat.[15]

Akan tetapi ada pengaruh dari tarekat Qadiriyah sudah sejak lama di Jawa sebelum Hamzah Fansuri, walaupun kita tidak mempunyai informasi yang tepat. Menurut tradisi rakyat daerah Cirebon, Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni sendiri pernah datang ke Jawa, bahkan orang dapat menunjukkan kuburannya.[16]

Juga terdapat indikasi lain bahwa pengaruh Qadiriyah ada di Banten dengan adanya pembacaan kitab-kitab Manaqib Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni pada kesempatan tertentu yang sudah sejak lama menjadi bagian dari kehidupan beragama di sana. Dan dalam Serat Centhini, salah seorang tokohnya bernama Danadarma, mengaku pernah belajar kepada “Seh Kadir Jalena” di perguruan di Gunung Karang di Banten. Dari indikasi-indikasi di atas, agaknya, menunjukkan bahwa “ilmu Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni” telah diajarkan di Cirebon dan Banten, setidak-tidaknya sejak abad ke-17.

Apa sebetulnya “ilmu Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni” yang telah diajarkan di Aceh dan Jawa? Pada masa pengislaman Jawa pertama kali yang diajarkan oleh guru-guru yang menguasai ilmu-ilmu kesaktian dan kekebalan itu lebih disegani daripada yang lain. Oleh karena itu, ilmu-ilmu itu yang diajarkan para wali terutama Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus. Dalam tradisi rakyat di hampir seluruh dunia Islam, kekebalan dihubungkan dengan nama wali besar, Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni dan Ahmad Rifa’i (yang sering dianggap murid Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni). Tidak mengherankan kalau mereka ( terutama Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni) populer di kalangan orang Jawa, yang sangat tertarik kepada kekuatan magis. Sebuah naskah tasawuf yang sederhana dari Jawa Barat menyebut Syeikh `Abd al-Qâdir Jîlâni sebagai sumber ilmu makrifat yang diajarkan oleh para wali di Jawa.[17]

E. Kesimpulan

Tarikat Qadariyah yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qadir Jaelani memiliki kontribusinya besar terhadap spiritualitas Islam memang amat penting. Ia mendirikan suatu gerakan yang amat kuat dalam membentuk budaya spiritual Islam sampai saat ini.

Daftar Pustaka

M. Hilman Anshary, Resonansi Spiritual Wali Quthub Syekh Abdul Qadir al-Jailani, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004)

Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1999)

Moh. Saifulloh Al-Azis, Manaqib, (Surabaya : Terbit Terang)

Seyyed Hussein Nasr (ed.), Eksiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, terj. (Bandung: Mizan, 2003)



[1] M. Hilman Anshary, Resonansi Spiritual Wali Quthub Syekh Abdul Qadir al-Jailani, (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), h. 3.

[2] Seyyed Hussein Nasr (ed.), Eksiklopedi Tematis Spiritualitas Islam, terj. (Bandung: Mizan, 2003), h. 13.

[3] Ibid., h. 16.

[4] Ibid., h. 17.

[5]M. Hilman Anshary, Resonansi Spiritual Wali Quthub Syekh Abdul Qadir al-Jailani (Bagdad-Iraq), (Jakarta: Kalam Mulia, 2004), h. 1.

[6] Ibid, h. 2-3.

[7] Ibid, h. 6.

[8] Nama lengkapnya Abu Abbas Balya bin Malkan dengan gelar Sir min Asrorillah Jundun min Junudillah. Dia seorang Nabi yang tidak jelas sejarah tetap keberadannya, namun sangat populer ceritanya dalam peristiwa Nabi Musa a.s. Dan memiliki arti penting dalam kajian tasawuf sebagai guru utama. Cerita lain mengenainya saat berpura-pura menjadi tentara Alexander yang agung di Yunani, ia yang pertama menemukan air kehidupan dan meminumnya, ketika bersama Alexander dan Aristoteles mencari air kehidupan yang tidak menyebabkan mati. Selanjutnya Alexander dan Aristoteles menjadi murid Nabi Khidir (Syech Abdulkarim al-Ujaily, Insan Kamil, Darulfikri tanpa tahun).

[9] Ibid., h. 26.

[10] Dr. Said bin Musfir al-Qahthani, h. 517-535.

[11] Drs. Moh. Saifulloh Al-Azis, Manaqib, (Surabaya : Terbit Terang), hal. 9

[12] Al-Auraad al-Qadiriyah, h. 21.

[13] Dr. Said bin Musfir al-Qahthani, Op.cit., h. 528.

[14] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1999), cet. III, h. 207-208.

[15] Martin van Bruenessen, Op.cit., h. 208.

[16] Ibid, h. 209.

[17] Ibid, h. 210.

0 komentar:

 
© Copyright 2008 your blog name . All rights reserved | your blog name is proudly powered by Blogger.com | Template by Template 4 u and Blogspot tutorial